Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Sejarah dan Pengembangannya

Tanggal 23 Desember 1977 adalah hari yang bersejarah. Di hari itu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga berdiri, dengan nama Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Surat Keputusan Rektor Universitas Airlangga yang terbit pada hari itu, bernomor A.II.5685/Rektor/90/UA/77, mengangkat sebuah presidium untuk mengelola Fakultas yang baru ini, dengan Soetandyo Wignjosoebroto, MPA sebagai dr. R. Koento, MPH, MA sebagai sekretaris, Prof. dr. D. Ma’rifin Husin, Msc. Sebagai anggota. Pada hari itu juga dengan surat keputusan yang sama, Rektor membubarkan Panitia Pembentukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga yang telah bekerja setahun lamanya mempersiapkan berdirinya Fakultas Ilmu Sosial tersebut.

Secara fisik FISIP Unair telah berubah. Dari sebuah fakultas bergedung kecil yang kini digunakan koperasi mahasiswa dan sekretariat unit-unit kegiatan mahasiswa dengan fasilitas seadanya, menjadi fakultas yang memiliki gedung permanen tiga lantai yang cukup memadai. Dari fakultas yang hanya mengelola satu jurusan (sosiologi) saja, FISIP kini menjadi fakultas yang mempunyai enam jurusan, mengelola beragam program studi S1, program S2, dan program D3. Dari rahim FISIP bahkan telah lahir dua fakultas baru : Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Budaya.

Membangun sebuah komunitas dan institusi akademik tampaknya selalu menempuh jalan yang berliku. Tak terkecuali FISIP Universitas Airlangga. Di lingkungan Universitas Airlangga, FISIP termasuk fakultas yang masih berusia muda dan hanya dengan berbekal tekad, idealisme dan spirit.

Adalah Soetandyo Wignjosoebroto atau akrab disapa mahasiswa dengan nama Pak Tandyo sesungguhnya yang menjadi cikal bakal pendiri FISIP. Di sebuah gedung kecil yang terletak di pojok jalan jauh dari kesan sebuah kampus yang layak, disanalah pertama kali sejumlah dosen dengan dimotori Pak Tandyo mencoba membangun sebuah tradisi akademik baru : mengembangkan ilmu sosial yang pada masa itu baru tak banyak dikenal orang.

Di saat awal berdiri, FISIP Unair yang pada waktu itu masih bernama FIS hanya memiliki tujuh orang tenaga pengajar tetap dan dua orang tenaga tidak tetap. Pada tahun akademisi 1978, mahasiswa yang diterima untuk angkatan pertama hanya 62 orang, 29 diantaranya mahasiswa putri. Para mahasiswa itu telah diterima melalui seleksi ujian masuk yang diselenggarakan oleh Proyek Perintis I Departemen P & K. Pada tanggal 21 Februari 1978, kuliah pertama semester I tahun akademi 1978 di mulai dan inilah sebenarnya awal dan tantangan riil dari sebuah proses perubahan besar di bidang akademik.
Berbeda dengan Fakultas Kedokteran yang tengah mencapai puncak kejayaan atau Fakultas Teknik yang banyak diburu karena menjadikan masa depan yang cemerlang, FISIP justru didirikan ketika masyarakat belum banyak yang paham apa itu ilmu sosial. Seseorang arsitek, ia bisa mendesain dan membangun gedung bertingkat yang megah. Seorang dokter ia dianggap telah melakukan pekerjaan mulia menolong dan mengobati orang – orang yang sakit. Lantas, apa yang bisa dihasilkan dan di harapkan dari seorang ilmu sosial? Bagaimana mungkin sebuah fakultas yang gedungnya saja masih jauh dari layak bisa mendidik mahasiswa hingga menjadi sarjana ilmu sosial yang bermutu?
Sejak awal mula fakultas ilmusosial didirikan dengan niat besar untuk mendayungan inovasi – inovasi baru di bidang pendidikan guna mengembangkan kegiatan belajar mengajar yang inkovensional. Selain pembangunan dan penerapan apa yang disebut learning by objective, dan pula penggunaan praktik diskusi dalam kelompok – kelompok kecil sebagai salah satu cara belajar mahasiswa, fakultas ilmu sosial pemgembangan kemampuan mahasiswa untuk menulis dan untuk mendayagunakan informasi yang tersimpan di dalam kepustakaan dan perpustakaan. Minat untuk mengamati keyataan ( melalui studi lapangan ) dan mendayagunakan data sekunder ( melalui usaha kliping ) juga telah dicoba dikembangkan sejak tahapnya yang paling dini pada tahun akademi yang pertama. Sementara itu pantas pula dicatat bahwa di lingkungan Universitas Airlangga yang menerapkan sistem kredit untuk menghitung besar baban kegiatan belajar mahasiswa.
Di bidang materi kajian dan materi pengajaran sekalipun fakultas ilmu sosial ini mencoba mengonsentrasikan diri pada permasalahan sosiologik dan politik, namun ada dua dimensi utama yang akan banyak pula diperhatika dan digarap alam program-program kurikuler Fakultas ii,yakni dimensi cultural dan dimensi cultural, dan dimensi psikologi / individual masyarakat. Pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga ini akan lebih mencondongkan diri pada pendidikan yang bersifat multisipliner di bidang ilmu-ilmu sosial daripada mengarahkan diri pada suatu pendidikan monodisipli yang ketat an sempit.
Tanggal 25 April 1978, dua bulan telah dimulainya kegiatan-kegiatan akademis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini, Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen P&K menyatakan prinsip persetujuannya atas pembukaan Fakultas ini (melalui suratnya bernomor 267/D/R/78). Empat bulan kemudian, Rektor dengan surat keputusannya tertanggal 191978 dan bernomor A.II3937/Rektor/50/UA/78 memandang perlu untuk mengganti bentuk dan personalia pimpinan Fakultas Ilmu Sosial. Bentuk pimpinan berubah dari bentuk Presidium ke bentuk Kedekanan. Sebagai Dekan pertama diangkat Soetandyo Wignjosoebroto, MPA, sedasngkan dr. R. Koento, MPH, MA, Drs. J. Dwi Narwoko dan Drs. Soedarmadji Harjono masing-masing diangkat sebagai Pembantu Dekan Urusan Pendidikan dan Penelitian, Pembantu Dekan Urusan Administrasi Umum dan Pembantu Dekan Urusan Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat.

Visi:

Menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, bermutu tinggi dan terkemuka yang memiliki landasan Ketaqwaan kepada Tuhan YME, mendasarkan pada semangat pluralisme, kemanusiaan, demokrasi, keadilan dan kesejahteraan bersama yang berorientasi pada pengembangan keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.

Misi :

  1. Menyelenggarakan proses belajar mengajar secara tertib, kreatif termasuk mendayagunakan berbagai metode dan media pembelajaran efektif dan efisien
  2. Menjadikan kampus sebagai ruang publik dan miniatur Indonesia yang peka dan responsif terhadap kemajemukan
  3.  Melakukan dan memfasilitasi pengkajian-pengkajian, baik yang bersifat dasar untuk tujuan pengembangan keilmuan maupun yang bersifat strategis untuk pemecahan berbagai masalah sosial secara sistematis, terarah dan terprogram.f_20025_g2
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s